
Di tengah rimbunnya pepohonan Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, seorang mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI) UIN Sumatera Utara tahun 2026 tengah menjalankan sebuah program kerja yang memadukan keilmuan Bahasa Inggris dengan edukasi lingkungan. Mutia Putri, mahasiswa TBI yang tergabung dalam kelompok KKN UIN Sumatera Utara di Desa Perkebunan Bukit Lawang, mengembangkan sebuah buku saku berbahasa Inggris yang dirancang untuk mendukung para fasilitator di kawasan Recycling Village milik Project Wings, atau Yayasan Sayap Proyek Indonesia (YASPI).
Buku saku itu diberi nama Facilitator English Pocket Book. Sekilas terlihat sederhana, namun di baliknya tersimpan proses panjang yang melibatkan diskusi, observasi, dan kerja penerjemahan yang tidak sedikit. Produk ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan: Project Wings kerap menerima kunjungan dari berbagai kalangan, termasuk pengunjung mancanegara, yang membutuhkan penjelasan mengenai kegiatan lingkungan dan daur ulang dalam Bahasa Inggris. Di sinilah mahasiswa TBI melihat peran mereka dapat diberikan.
Arahan Prodi dan Semangat SDG 4
Selama pelaksanaan KKN, Program Studi Tadris Bahasa Inggris mengarahkan mahasiswanya untuk tidak berhenti pada program kerja yang sifatnya seremonial. Mahasiswa didorong untuk merancang kegiatan yang benar-benar relevan dengan latar belakang keilmuan mereka sekaligus turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 yang berbicara tentang pendidikan berkualitas.
Bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, dukungan terhadap SDG 4 tidak melulu berwujud kegiatan mengajar di ruang kelas. Pengembangan materi pembelajaran, penyediaan bahan pendukung berbahasa Inggris, peningkatan kapasitas komunikasi, hingga penguatan literasi bahasa juga merupakan bentuk kontribusi yang sah dan relevan. Arahan inilah yang kemudian menjadi pijakan bagi mahasiswa TBI ketika mereka ditempatkan untuk melaksanakan KKN di Project Wings.
Ketika berhadapan langsung dengan kondisi di lapangan, mahasiswa menyadari bahwa kompetensi Bahasa Inggris yang mereka miliki dapat digunakan untuk sesuatu yang lebih konkret daripada sekadar teori di bangku kuliah. Dari sanalah gagasan menyusun materi pendukung berbahasa Inggris bagi Project Wings mulai terbentuk.
Mengenal Project Wings dan Recycling Village
Project Wings, yang secara resmi berbadan hukum sebagai Yayasan Sayap Proyek Indonesia, merupakan organisasi yang bergerak di bidang edukasi lingkungan dan pengelolaan sampah di kawasan Bukit Lawang. Melalui kawasan yang dikenal dengan nama Recycling Village, Project Wings mengembangkan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan sampah plastik, pembangunan berkelanjutan, konservasi, hingga pemberdayaan masyarakat.
Sebagai kawasan yang juga menjadi bagian dari destinasi wisata Bukit Lawang, Recycling Village kerap dikunjungi oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar, relawan lokal, hingga pengunjung dari luar negeri. Kondisi ini membuat kebutuhan akan penjelasan dalam Bahasa Inggris menjadi hal yang tidak dapat dihindari, terutama bagi fasilitator yang bertugas mendampingi dan menjelaskan berbagai kegiatan edukasi lingkungan kepada pengunjung.
Di titik inilah mahasiswa TBI menemukan celah untuk berkontribusi. Bukan dengan mengubah program kerja lingkungan yang sudah berjalan, melainkan dengan melengkapi apa yang belum tersedia: materi pendukung berbahasa Inggris yang dapat digunakan fasilitator saat bertugas.
Bermula dari Dua Fasilitator dan Satu Kelompok Peneliti dari Jerman
Ide penyusunan Facilitator English Pocket Book ini sebenarnya tidak muncul begitu saja. Gagasan tersebut berangkat dari kebutuhan yang ditemukan selama kegiatan KKN berlangsung di Project Wings. Sebagai kawasan yang tidak hanya menjalankan kegiatan pengelolaan dan edukasi lingkungan, Recycling Village juga memiliki sejarah serta berbagai informasi yang perlu dipahami oleh para fasilitator ketika mendampingi pengunjung. Bagi fasilitator muda atau mereka yang masih relatif baru terlibat dalam kegiatan di Project Wings, memahami keseluruhan sejarah, latar belakang, dan informasi mengenai program yang ada tentu membutuhkan proses belajar dan pengenalan yang tidak sebentar. Kondisi inilah yang kemudian menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan buku saku, agar informasi mengenai Recycling Village dapat terdokumentasi dengan lebih terstruktur dan sekaligus menjadi bahan pendukung bagi para fasilitator dalam menyampaikan edukasi kepada pengunjung, termasuk dalam Bahasa Inggris.
Kebutuhan akan materi pendukung berbahasa Inggris juga berkaitan dengan karakter Recycling Village yang terbuka bagi pengunjung dari berbagai daerah, termasuk wisatawan asing. Dalam beberapa kunjungan, wisatawan tidak hanya menikmati suasana kawasan, tetapi juga menunjukkan ketertarikan terhadap konsep dan proses yang diterapkan di Recycling Village. Mereka dapat mengajukan pertanyaan mengenai berbagai hal, mulai dari penggunaan ecobrick pada bangunan, pemanfaatan bambu, hingga konsep dan ketahanan konstruksi yang digunakan.
Bagi para fasilitator, terutama mereka yang masih relatif baru bergabung dalam kegiatan Project Wings, pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari proses untuk terus memperdalam pemahaman mengenai Recycling Village. Project Wings sendiri telah memiliki berbagai informasi dan materi yang berkaitan dengan kegiatan serta sejarah pengembangan Recycling Village. Namun, informasi tersebut masih terdapat dalam beberapa bahan dan dokumen yang digunakan dalam berbagai kegiatan. Karena itu, dibutuhkan sebuah materi yang dapat menghimpun informasi penting tersebut secara lebih ringkas dan praktis, sekaligus menyediakannya dalam Bahasa Inggris.
Kebutuhan inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar mahasiswa KKN TBI dalam mengembangkan Facilitator English Pocket Book for Recycling Project. Buku saku tersebut dirancang bukan untuk menggantikan pengetahuan dan pengalaman para fasilitator, melainkan sebagai bahan pendukung yang dapat membantu mereka mempelajari informasi mengenai Recycling Village dan menyampaikannya kepada pengunjung, khususnya wisatawan asing, dengan lebih mudah dan terarah.
“Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan English Facilitator Pocket Book agar informasi yang dibutuhkan fasilitator lebih terstruktur dan mudah digunakan ketika menerima tamu atau kelompok penelitian, khususnya wisatawan atau peneliti asing,” ujar salah satu pihak Project Wings.
Dari titik inilah, kebutuhan yang muncul dari internal Project Wings itu kemudian bertemu dengan kompetensi yang dimiliki mahasiswa KKN TBI, dan berlanjut menjadi program kerja bersama yang dijalankan beriringan dengan kegiatan KKN lainnya.
Berproses Bersamaan, Bukan Terpisah
Menariknya, penyusunan Facilitator English Pocket Book ini tidak dikerjakan sebagai proyek tersendiri dengan jadwal khusus. Prosesnya justru berjalan beriringan dengan pelaksanaan program kerja KKN lain yang dijalankan mahasiswa di Project Wings. Saat mahasiswa terlibat dalam berbagai kegiatan lapangan, di sela-sela itulah diskusi dengan pihak Project Wings berlangsung.
Percakapan-percakapan kecil mengenai kebutuhan fasilitator, pertanyaan seputar istilah lingkungan yang perlu diterjemahkan, hingga masukan tentang materi apa saja yang sebaiknya dimasukkan ke dalam buku saku, semuanya muncul secara alami di tengah aktivitas KKN yang tengah berjalan. Mahasiswa mengamati langsung bagaimana fasilitator bekerja, mendengarkan pertanyaan yang biasa diajukan pengunjung, dan dari situ mengidentifikasi informasi apa saja yang perlu disiapkan dalam versi Bahasa Inggris.
Proses semacam ini membuat pengembangan pocket book terasa menyatu dengan keseluruhan pengalaman KKN, bukan sebagai kegiatan tambahan yang berdiri sendiri. Informasi yang terkumpul kemudian diolah secara bertahap, diterjemahkan, dan disesuaikan agar dapat dipahami dengan mudah oleh pembacanya.
Bukan Sekadar Menerjemahkan Kata
Salah satu hal yang ingin ditekankan dari kegiatan ini adalah bahwa pekerjaan mahasiswa TBI tidak berhenti pada menerjemahkan kata demi kata. Mereka juga melakukan adaptasi bahasa, memilih kosakata yang tepat, dan menyusun kalimat yang komunikatif sesuai konteks penggunaannya di lapangan.
Istilah-istilah seputar lingkungan dan daur ulang, misalnya, tidak selalu memiliki padanan langsung yang mudah dipahami oleh pengunjung awam. Mahasiswa perlu mempertimbangkan bagaimana suatu istilah sebaiknya dijelaskan agar tetap akurat secara makna, namun tetap ringan dan mudah dicerna ketika disampaikan secara lisan oleh fasilitator kepada pengunjung.
Latar belakang pendidikan Bahasa Inggris yang mereka tekuni selama ini pun menjadi bekal utama dalam proses tersebut. Kemampuan memilih diksi, menyusun struktur kalimat yang sederhana namun tetap benar, serta memahami kebutuhan komunikasi lintas bahasa, semuanya dipraktikkan langsung dalam konteks yang nyata, bukan sekadar latihan di dalam kelas.
Dari Diskusi Menuju Draf
Setelah melalui tahap pengumpulan informasi, mahasiswa mulai menyusun draf awal Facilitator English Pocket Book. Draf ini kemudian dibahas kembali bersama pihak Project Wings untuk mendapatkan masukan, baik dari sisi konten maupun bahasa yang digunakan. Proses diskusi dan review tersebut membuka ruang bagi perbaikan. Beberapa bagian direvisi agar lebih sesuai dengan kebutuhan fasilitator, sementara bagian lain disederhanakan agar lebih mudah digunakan sebagai panduan cepat saat mendampingi pengunjung.
Pada tahap akhir yang telah dilalui, pocket book ini baru dipresentasikan kepada staf dan fasilitator Project Wings sebagai bentuk pengenalan awal sekaligus untuk mendapatkan masukan langsung dari mereka yang nantinya akan menggunakan materi tersebut. Sepanjang proses pengerjaannya, mahasiswa juga didampingi oleh salah satu staf Project Wings, Tiara Azzahra, yang menjabat sebagai Marketing and Ecotourism Staff, sehingga materi yang disusun tetap sejalan dengan kebutuhan lapangan.
Hingga berita ini ditulis, Facilitator English Pocket Book masih berada pada tahap revisi dan penyempurnaan berdasarkan masukan yang diperoleh dari sesi presentasi tersebut. Produk ini belum dicetak dan belum digunakan secara resmi oleh seluruh fasilitator Project Wings. Mahasiswa dan pihak Project Wings masih terus menyempurnakan isi maupun format buku saku tersebut sebelum dipersiapkan untuk tahap pencetakan dan penggunaan selanjutnya.
Penerapan Ilmu di Luar Ruang Kelas
Bagi mahasiswa TBI, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk konkret penerapan ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di luar ruang kelas. Selama ini, mahasiswa dibekali dengan kemampuan berbahasa, penerjemahan, hingga pengembangan materi pembelajaran. Namun kesempatan untuk mempraktikkan kemampuan tersebut dalam situasi nyata di tengah masyarakat tidak selalu mudah ditemukan.
Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai calon pendidik yang kelak mengajar di sekolah, tetapi juga sebagai pengembang materi edukatif yang dapat digunakan dalam konteks yang lebih luas. Kemampuan berkomunikasi, penguasaan kosakata, keterampilan menerjemahkan, serta kepekaan dalam menyesuaikan bahasa dengan audiens, semuanya menjadi kompetensi yang benar-benar teruji di lapangan.
Pengalaman semacam ini memperlihatkan bahwa kebutuhan akan komunikasi lintas bahasa tidak hanya ada di ruang-ruang formal seperti sekolah atau kampus, tetapi juga hadir di tengah kegiatan masyarakat, termasuk dalam kegiatan edukasi lingkungan yang dijalankan oleh lembaga seperti Project Wings.
Kontribusi yang Mendukung SDG 4
Pengembangan Facilitator English Pocket Book ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa terhadap SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Melalui penyediaan materi edukatif berbahasa Inggris, mahasiswa turut mendukung proses penyampaian informasi dan pembelajaran yang lebih baik di lingkungan masyarakat, khususnya bagi fasilitator yang bertugas menjelaskan kegiatan lingkungan kepada pengunjung.
Kontribusi ini memang tidak berdiri sendiri. Kegiatan lingkungan dan daur ulang yang dijalankan Project Wings pada dasarnya juga memiliki keterkaitan dengan berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan lainnya. Namun sesuai arahan Program Studi Tadris Bahasa Inggris, fokus utama dari program kerja mahasiswa tetap diarahkan pada SDG 4, sebagai representasi paling relevan dari bidang keilmuan yang mereka tekuni.
Manfaat yang Sudah Terasa, Harapan yang Masih Terbuka
Sejauh ini, manfaat yang dapat dirasakan dari kegiatan ini setidaknya mencakup tiga hal. Pertama, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan Bahasa Inggris pada konteks nyata di luar dunia akademik. Kedua, terjalin kolaborasi yang baik antara mahasiswa TBI dan Project Wings, yang membuka ruang diskusi dan pertukaran informasi selama masa KKN berlangsung. Ketiga, tersusunnya draf materi pendukung berbahasa Inggris yang menjadi cikal bakal Facilitator English Pocket Book.
Sesi presentasi kepada staf dan fasilitator Project Wings pada tahap akhir kemarin juga menjadi langkah penting, karena masukan dari merekalah yang justru paling relevan untuk menyempurnakan pocket book ini sebelum benar-benar siap digunakan. Untuk manfaat jangka panjang, tentu masih perlu waktu. Setelah melalui tahap revisi dan finalisasi, pocket book ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu referensi bagi seluruh fasilitator Project Wings, tidak hanya dua fasilitator senior yang selama ini menjadi rujukan, ketika mendampingi pengunjung maupun kelompok peneliti asing. Buku saku ini juga berpotensi membantu memperlancar komunikasi antara fasilitator dan pengunjung mancanegara, sekaligus mendukung konsistensi informasi yang disampaikan mengenai kegiatan lingkungan di Recycling Village.
Kisah di balik Facilitator English Pocket Book ini menunjukkan bahwa kontribusi mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris dalam kegiatan KKN dapat hadir dalam berbagai bentuk, tidak melulu berupa kegiatan mengajar di depan kelas. Pengembangan materi edukatif dan dukungan komunikasi di tengah kegiatan masyarakat menjadi bukti bahwa ilmu bahasa memiliki ruang aplikasi yang luas, termasuk dalam isu-isu lingkungan dan keberlanjutan.
Sembari terus menjalani proses revisi dan penyempurnaan, mahasiswa dan Project Wings berharap Facilitator English Pocket Book ini kelak dapat menjadi salah satu materi pendukung yang bermanfaat bagi kegiatan edukasi lingkungan dan daur ulang di Bukit Lawang, sekaligus menjadi jejak nyata dukungan mahasiswa Tadris Bahasa Inggris UIN Sumatera Utara terhadap pencapaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas.

